Tadi ketika kamu membahas tentang ibu negaramu, aku berusaha tegar. Aku tersenyum, aku pura-pura biasa saja, seolah itu tidak mengusik hati. Padahal, dalam diam, ada perih yang sulit kujelaskan. Rasanya seperti ada benang halus di dadaku yang ditarik terlalu kencang, hampir putus, membuat nafasku sesak.
Aku tahu sejak awal siapa dirimu. Aku tahu ada kehidupan yang tidak bisa kuganggu, ada wilayah yang tak mungkin bisa aku masuki. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak egois, untuk tidak menuntut hal-hal yang bukan hakku. Tapi rindu yang terlalu deras, cinta yang terlalu dalam, membuat dinding itu terasa begitu tinggi. Malam ini, aku merasa kecil sekali.
Aku cemburu, bukan karena ingin merebut. Aku tidak pernah berniat begitu. Aku hanya ingin sekali saja merasa cukup di hatimu. Aku hanya ingin sekali saja menjadi nama yang kau sebut tanpa ada bayangan lain menyelip di sela-sela cerita. Bukan berarti aku tak bersyukur dengan hadirmu justru sebaliknya. Kamu adalah pusatku, alasan kenapa hari-hariku kembali berwarna. Mungkin itulah mengapa cemburu ini terasa begitu berat.
Tentu aku tidak akan mengatakannya langsung padamu. Aku tidak mau kamu merasa bersalah, tidak mau kamu melihatku sebagai seseorang yang menuntut lebih. Aku akan tetap tersenyum di hadapanmu, tetap mendukungmu, tetap menjadi tempatmu pulang ketika kamu ingin bercerita. Tapi di balik semua itu, ada aku yang menahan air mata, ada aku yang diam-diam menulis perasaan ini di antara kata-kata.
Kamu harus tahu satu hal: ketika aku cemburu, itu bukan karena benci, melainkan karena cintaku padamu begitu besar. Karena rinduku padamu tak pernah berkurang. Karena kehadiranmu terlalu berarti untukku. Dan mungkin, aku hanya ingin kamu sadar, betapa dalam aku menjatuhkan hati ini kepadamu.
Malam ini, aku memilih menuliskan semuanya, membenamkan cemburu ini dalam huruf-huruf. Besok pagi, aku akan kembali jadi diriku yang biasa ceria, penuh tawa, dan kuat di hadapanmu. Tapi malam ini, biarkan aku jujur pada perasaanku. Biarkan aku menangis diam-diam. Biarkan aku cemburu, hanya sebentar saja.
– aku

Tidak ada komentar: